Lagi
dan lagi bencana asap ini kembali hadir di pulau
sumatra, kini bencana asap di Sumatra, terutama di Riau dan Jambi
semakin parah. Inilah hasil dari perbuatan manusia yang serakah akan
dunia, tidak mementingkan umat manusia di sekelilingnya. Akibat
bencana asap ini, semua kegiatan sehari-hari lumpuh total.
Bencana
asap akibat kebakaran lahan dan hutan di Sumatera masih terus
berlangsung terutama di Riau dan Jambi. Akibatnya, puluhan ribu orang
terjangkit inspeksi saluran pernafasan atas, hingga bandara lumpuh
tak beroperasi.
"Hari
ini tidak ada pesawat komersil yang tiba ataupun berangkat, 18
penerbangan kedatangan dan 18 keberangkatan di Bandara Sultan Thaha
Jambi," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Sutopo Purwo
Nugroho dalam siaran pers, Senin, (7/9/2015).
Hal
itu diketahui hasil dari rapat koordinasi pukul 20.00 WIB yang
dipimpin oleh Danrem selaku Komandan Satuan Tugas. Dari rapat itu
juga diketahui, berdasarkan pantauan satelit Modis pada 7-9-2015
pukul 05.00 WIB, masih terdapat 413 hotspot di Sumatera, di mana di
Jambi ada 170 hotspot.
"Indeks
Standar Pencemaran Udara = 216 (Sangat Tidak Sehat). Jarak pandang
dari pagi hingga malam hanya sekitar 600 meter (horisontal) dan
vertikal 90 meter akibat asap pekat," paparnya.
Operasi
udara (water boombing) dengan 2 helikopter BNPB belum bisa melakukan
penerbangan karena terkandala jarak pandang. Rencana akan dijajaki
penggunaan helipad di wilayah PT WKS yang jarak pandangnya lebih baik
dbanding di Bandara Sultan Thaha Jambi.
"Pesawat
Air Tractor dari Kementerian LHK direncakan akan digeser ke Jambi
apabila di Bandara Sultan Thaha sudah bisa dilakukan pendaratan
pesawat," terang Sutopo.
Sutopo
juga menuturkan Dinas Kesehatan Provinsi Jambi telah menyalurkan
22.400 masker di kab/kota. Sementara Dinas Perkebunan mendorong
perusahaan perkebunan untuk mengeluarkan alatnya dan akan
berkolaborasi dengan tim satgas darat.
Untuk
lokasi operasi darat dilakukan di wilayah Kabupaten Muaro Jambi,
Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Terkait kendala operasi yaitu kesulitan sumber air di daerah Jebus PT
JBP sehingga dikerahkan eksavator untuk membuat parit sebagai sumber
air, juga kendala minimnya peratalan pemadaman.
"Hari
ini Sekolah dari TK sampai kelas 3 SD diliburkan, pada Selasa masih
akan diliburkan," ujarnya.
Indonesia
saat ini sedang bersedih dengan adanya bencana yang mengakibatkan
manusia dan lingkungannya rusak. Saya pun mendapatkan sebuah surat
yang dikeluarkan oleh FM Jambi untuk Presiden Joko Widodo, semoga Pak
Presiden membacanya, berikut kutipan surat tersebut,
[SURAT FM JAMBI UNTUK INDONESIA]
Dear
Yth. Presiden RI Joko Widodo
Titik
api di sekitar kami bukanlah simbol kemarahan Allah SWT Tuhan Yang
Maha Esa, tapi simbol keserakahan dan bukti ketidakpedulian Negara
terhadap daerah.
Bapak
mau kesini sekarang?
Bandara
ditutup pak, lagipun tak ada anak sekolah yang menyambut bapak,
sekolah diliburkan.
Mau
menempuh jalan darat?
Bahaya
Pak, asap tebal tidak bagus untuk kesehatan Bapak dan Ibu Iriana.
Biarkan
saja seperti ini agar Riau dan Jambi menjadi lahan sawit dan bisa
ditanam tanaman industri, kami ikhlas mati pelan-pelan karena ISPA,
karena ketidakberdayaan kami di sini. Kami pasrah, mungkin ini
khendak Allah SWT Tuhan YME.
Bagi
saudara/i kami di daerah lain, kami sangat berterima kasih atas do'a
yang selalu kalian panjatkan, mohon maaf karena kiriman asap Riau dan
Jambi kalian jadi terganggu. Udara di Riau dan Jambi berstatus
bahaya. Berita dari berbagai media katanya Pekanbaru sudah tidak
layak huni lagi karena 5% udara yang bersih yang bisa di hirup.
Pemerintah
pusat sudah tidak peduli pada kami. Hari ini puncaknya 6 juta rakyat
Riau dan 3 juta rakyat Jambi akan terkena kanker paru-paru, terutama
anak-anak. Sepertinya lebih peduli pada kekisruan internal ditubuh
istana dari pada nasib rakyat Riau dan Jambi. Padahal Riau salah
satu penyumbang devisa terbesar negara, begitu juga Jambi.
Belum
lagi usai Bencana Asap kami sudah dihadapkan lagi pada menurunnya
hasil pertanian karet dan sawit yang ditambah harga penjualannya yang
menurun derastis sampai titik terparah.
Semoga
Pemerintahan Pusat dan Daerah bisa melihat sedikit bencana yang kami
hadapi dan memberikan solusi jalan keluarnya.
Tolong
sebarkan karena media TV dan Koran tidak banyak memberitakan tentang
hal ini, terlalu sibuk dengan pemberitaan Kepentingan Pribadi dan
Kelompok semata di dalam Istana.
Kami
hanya bisa berharap pada do'a, sebelum rakyat Riau dan Jambi mati
perlahan disini.
#PrayForRiauJambi
Sumber
: Detik.com
Group
Whatsapp








0 komentar:
Posting Komentar